Kamis, 03 Oktober 2019

Awal Mengenal Pendidikan Masyarakat

Ini adalah sedikit cerita perjalanan hidup saya saat memasuki tahap transisi dari siswa menjadi mahasiswa, bermula saat pengumuman SBMPTN tahun 2017 dengan tulilsan SELAMAT ANDA DITERIMA DI UNIVERSITAS SILIWANGI JURUSAN PENDIDIKAN MASYARAKAT (seperti itu kurang lebih tulisannya). Saat itu saya langsung senang dan gembira serta berterimakasih kepada Allah swt yang telah menjawab satu dari ribuan doa yang saya panjatkan, tetapi sejenak saya merenung dan berfikir dalam keadan masih gembira. Apa itu Penmas? Kenapa saya memilih jurusan ini? Tetapi itu hanya berlangsung sangat sebentar karena rasa senang dan gembira sangat mendominasi. Setalah kurang lebih 1 bulan mulailah memasuki dunia kampus dengan rangkaian ospek mulai dari tingkat universitas, fakultas, dan jurusan saya ikuti semuanya dan disini saya masih belum mengerti apa itu Penmas. Sampailah pada ospek jurusan yang memperkenalkan selayang pandang tentang Penmas, tetapi saya yang masih polos saat itu masih belum bisa memahami apa yang di sampaikan oleh dosen saat menjadi pemateri ospek jurusan dan kakak tingkat yang sesekali membicarakan tentang Penmas walaupun hanya sedikit.

Setelah rangkaian ospek selesai, dimulailah proses perkuliahan dan disini aku mulai sedikit menerka - nerka apa itu PLS dari mata kuliah yang ku ambil. Tingkat 1 ku lewati dengan keadaan tetap, yakni masih belum mengetahui apa itu PLS karena mungkin mata kuliah di tingkat satu baru pengantar atau bisa dikatakan bersifat umum. Disini saya merasa perlu wadah untuk mengasah ketajaman berfikir, dan saya memutuskan bergabung dengan salah satu organisasi.

Setelah itu saya memasuki tingkat 2 dan masih membawa pertanyaan yang sama, apa itu Penmas. Saya masih mencoba menerka - nerka jawabannya dari mata kuliah yang saya ambil. Dari beberapa mata kuliah ada jawaban tersirat mengenai Penmas, saat itu yang ada dalam pikiran saya bahwa PLS itu berkutat pada ranah pendidikan non formal & in formal sebagai penyeimbang pendidikan formal (karena memang ini yang terus menerus disampaikan oleh dosen, sehingga menjadi mindset berfikir mahasiswa). Saya masih belum puas, dan belum menemukan maksud sebenarnya dari Penmas, untuk menjawab itu terkadang saya bertanya pada kakak - kakak  diorganisasi yang saya ikuti. Mereka membahas pendidikan dan disinilah saya banyak melontarkan pertanyaan tentang dunia pendidikan,  walaupun tak ada satupun yang berkaitan dengan Penmas, tetapi setidaknya saya mendapatkan pengetahuan tentang dunia pendidikan yang tidak saya dapatkan diruang kelas.

Hari demi hari berganti, perkuliahan tingkat 2 masih saya tempuh. Ada satu hari dimana saat proses pembelajaran di kelas dosen memperkenalkan tokoh tokoh PLS di Dunia, yang paling saya ingat adalah Paulo Freire. Disitu saya mencoba untuk mencari biografinya, dan ada beberapa referensi buku yang Freire tulis dan buku yang mengulas tentang kiprah Freire dalam dunia pendidikan non formal.

Setelah itu, saya memutuskan untuk membeli buku "PENDIDIKAN KAPITALISME YANG LICIK" karya Miguel Escobar yang sudah diterjemahkan oleh penerbit IRCiSoD (bekerjasama dengan LKiS). Dalam buku ini menggambarkan dialog Paulo Freire dengan beberapa kawannya tentang Pendidikan. Saya menamatkan buku ini kurang lebih 2 bulan, dan bisa dikatakan setelah membaca buku ini sedikit tercerahkan tentang apa itu Penmas sebenarnya. Tetapi saya merasa belum puas, dan sampai saat ini (sudah memasuki tingkat 3) masih terus mencari jawabannya dari berbagai sudut pandang. Mungkin seperti ini memang seharusnya, kita menjadi pembelajar yang terus membekali diri dengan ilmu yang didapat dari Dosen dan dengan ilmu yang didapat oleh diri sendiri (dengan cara otodidak) sebagai cara untuk mendidik diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar